Kamis, 18 September 2008

Integrity. Do We Need it ?

Pribadi yang bersungguh-sungguh untuk secara teratur berlaku benar, adalah pribadi yang setia kepada yang benar.
Integritas adalah kesetiaan kepada yang benar.
Integritas adalah disiplin yang paling penting bagi pencapaian kesejahteraan, kebahagiaan dan kecemerlangan karir dan kehidupan pribadi kita. (Mario Teguh - http://marioteguh.blogspot.com/2008/09/integrity-is-most-important-discipline.html)

Kalimat diatas, saya kutip dari blog yang berisi kumpulan pemikiran pak Mario Teguh. Saya sendiri sangat tergoda untuk memikirkan lebih lanjut mengenai integrity ini. Apakah kita sebagai manusia ciptaan Tuhan sudah memiliki integrity..? hmm kaya'nya terlalu luas ya ? bagaiman kalo kita persempit menjadi kita sebagai warga negara, masih terlalu luas..? Ok, kalo gitu konteks-nya terserah pada kalian aja deh hehehehe.... :)

Sebenarnya apa sih integrity itu..? kalo menurut wikipedia sih, "Integrity is consistency between one's actions, values, methods, measures and principles. A value system's depth and breadth may also be significant factors due to their consistency with a wider range of observations. People are said to have integrity to the extent that they behave according to the values, beliefs and principles they claim to hold. One's value system may evolve over time while retaining integrity if inconsistencies are accounted for and resolved."
Nah, kalo melihat dari definisi diatas, inti-nya adalah consistency dan value system. Jadi apakah kalo ada orang yang hari ini bilang "A" besok bilang "B" (masih bagus nggak "Z") berarti orang ini tidak punya integritas ? Artinya, consistency lebih mudah kita lihat / nilai, menurut saya, yang susah adalah value system, beliefs dan principles. Atau kalo kita me-refer ke kalimatnya pak Mario Teguh : "Integritas adalah kesetiaan kepada yang benar", nah masalahnya untuk menilai mana yang benar or salah kadang-kadang sifatnya sangat "gray area".

Saya ambil contoh begini : saya selalu bilang ke Iwit (my daughter's nick name), kalo memukul atau melakukan kekerasan fisik lainnya kepada orang lain itu perbuatan yang tidak baik. Suatu hari, ada temannya (misalnya si X) yang memukul orang lain (misalnya Y). Iwit bilang X nggak salah karena si X dipukul duluan oleh si Y, lalu saya tanya lagi, kenapa si X dipukul ? Iwit bilang, si X belain kita (Iwit dan teman-teman lain). Nah disini kan terlihat, bahwa ada unsur self-defense, sehingga sepertinya apa yang dilakukan si X itu diperbolehkan. Walaupun akhirnya saya harus kasih penjelasan ke Iwit, agar dia tidak punya pemikiran bahwa pemukulan itu menjadi boleh hanya karena self-defense. Atau dengan kata lain, saya ajarkan konsistensi juga ke Iwit, kalo memang memukul adalah salah, ya tetap salah whatever the reason is.
Itu tadi contoh yang sangat kecil dan banyak juga terjadi di keseharian kita.

Kadang-kadang kita menghadapi dilema terkait dengan integritas kita. Saya sendiri, walaupun kadang permisif terhadap suatu hal, tapi kalo tekait dengan apa yang saya anggap benar atau terkait dengan value system yang saya yakini, maka saya akan jadi kaku, keras dan terkesan tidak cooperatif. Pernah ada kasus pemalsuan tandatangan. Semua pasti setuju dong, pemalsuan tandatangan itu tidak baik, bahkan masuk kategori tindakan kriminal. Si aktor pemalsuan ini adalah one of briliant student, semester terakhir, dan saya sangat kenal baik dengan si student ini. Pertama kali saya tahu, saya gak percaya tuh, sampai akhirnya studentnya ngaku. Wah, tentu aja dilematis buat saya. Tapi saya fikir, walaupun kita nggak makan seminggu bukan berarti kita boleh mencuri kan..?. Jadi walau dengan berbagai macam excuse, saya tetap proses lebih lanjut kasus ini, nggak peduli sepintar apa ni anak, nggak peduli kalo dia harus kerja keras untuk bayar kuliah, nggak peduli kalo ini adalah semester terakhirnya dan nggak peduli juga kalo dia sudah diterima di perusahaan yang sangat bergengsi. Saya harus firm dengan value yang saya yakini, apalagi saya kan kerja di institusi pendidikan. Mau jadi apa lulusan kita kalo kita menutup mata dengan tindakan kriminal semacam itu.

Saya yakin banyak kasus dari teman-teman terkait dengan integritas beserta dilema-nya. Boleh di share di sini. Pertanyaannya adalah seberapa besar integritas yang harus kita punya, yang harus kita pertahankan terutama kalo kita berada di lingkungan yang tidak terlalu firm menjunjung integritas atau mungkin value system yang dianut berbeda dengan yang kita anut. Bisa-bisa kita jadi alien di komunitas kita... hikkss.. hikksss. Sehingga seperti yang pak Mario Teguh bilang : ("Integritas adalah disiplin yang paling penting bagi pencapaian kesejahteraan, kebahagiaan dan kecemerlangan karir dan kehidupan pribadi kita. " ) tidak tercapai. Mungkin di kehidupan pribadi kita merasa cemerlang, karena pasti ada kepuasan batin yang tidak terhingga kalo kita menjalankan sesuatu sesuai dengan nurani kita atau sesuai dengan value system kita. Tapi, bagaimana dengan kecemerlangan karir ? Kalo kejadiannya kita berada di lingkungan kerja yang "berbeda" dengan kita, pastinya, boss kita sangat semangat mencarikan tempat yang nyaman buat kita atau dengan kata lain they don't like to cooperate with us, so go to hell.... :)

Well... anyone...? any comment..?

2 komentar:

Fie Chu mengatakan...

Berat...berat........
Betul Bu, setuju dengan perenungannya. Integritas kita menunjukkan siapa dan bagaimana diri kita. Bener gak seh ? :-)

Widiharto Yulisusilo, ST mengatakan...

kl buat diri sendiri mungkin integritas barkaitan erat dg hati nurani, mau diikuti ato diingkari..
kl buat orang lain...kita bs nilai sendiri.