Ketika semilir sang indah pergi tiba-tiba, lebih cepat dari datangnya pagi dari malam, lebih cepat dari berubahnya terik mentari menjadi hujan, apa yang bisa kita lakukan...?
Belum sempat dirasakan semilir itu merasuk ke aliran darah yang akhirnya akan menyatu dengan detakan jantung dan tergambar dalam hembusan nafas diiringi senyum bahagia, karena tiba-tiba semua pergi meninggalkan hati yang terlanjur bergemuruh meminta, yang saat ini dipaksa untuk terkulai mati.
Apakah semilir itu memang bukan untuk kunikmati...?
Apakah hanya angin malam genit membawa semilir itu sehingga membelai semua pori-pori kulitku..?
Seandainya begitu, pantaskah jika ku meminta lebih dari hanya sekedar semilir saja, wahai angin malam... ? Biarkan aku merasakan utuh sang indah mu. Biarkan sang indah mu mengisi semua relung hampa ku. Biarkan kutebarkan senyum manisku untuk sekali ini saja.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar